Sisi Gelap Kehidupan Slank
Narkoba dan rock ‘n roll melekat dalam Slank pada era 1990-an. Band yang
terdiri dari Kaka (vokal), Bimbim (drum), Ivanka (bas), Ridho (gitar),
dan Abdee (gitar) ini pernah mengalami pasang surut kehidupan. Apalagi,
ketiga personel Slank yakni Kaka, Bimbim, dan Ivanka merupakan pecandu
narkoba.
Kini, Slank telah keluar dari masa kelam itu. Tak ada lagi pengguna narkoba dalam tubuh band yang telah berdiri sejak 1983 ini. Hidup sehat, agamis, dan menjauhi narkoba sudah melekat dalam band tersebut.
Dalam Slank Nggak Ada Matinya, terungkap jelas begitu kejamnya narkoba. Bahkan, Bimbim (Adipati Dolken) ingin membubarkan band tersebut. Mereka merasakan penurunan drastis setelah mengomsumsi “barang” (narkoba) itu.
Bimbim pun sempat menghentikan konsernya karena pihak penyelenggara tak
menyediakan narkoba. Padahal, mereka telah membawakan beberapa lagu
dalam konser itu.
Efek dari penggunaan narkoba tak hanya merusak tubuh, tetapi juga persahabatan di dalam tubuh Slank. Baku hantam antarpersonel pun terjadi antara Bimbim dan Ridho (Ajun Perwira). Ridho mengancam akan keluar dari band itu.
Sosok Bunda Iffet (Meriam Belina) yang menjadi malaikat penyelamat band ini. Tak henti-hentinya ia berusaha menyembuhkan tiga personel Slank dari bubuk jahat itu.
Bunda Iffet tak ingin mereka meninggal akibat narkoba. Hingga suatu ketika, ia menjadi manajer Slank. Hal ini dilakukan untuk memantau ketiga personel tersebut.
Untungnya, Abdee (Deva Mahendra) dan Ridho bukan pengguna narkoba. Tak mudah bagi Kaka (diperankan Ricky Harun), Bimbim, dan Ivanka (Aaron Ashab) untuk dapat sembuh. Mereka harus menjalani rehabilitasi. Jadwal manggung dan album baru pun tertunda.
Kehebatan dan kesuksesan Slank dalam merebut hati penggemar tak sebanding dengan kehidupan di balik layar. Mereka mempunyai sisi gelap kehidupan.
Dalam akhir film itu, mereka berhasil keluar dari masalah tersebut hingga kini mereka terbebas dari barang haram tersebut. Ini tak terlepas dari kegigihan Bunda Iffet untuk menyelamatkan Slank dari kehancuran.
Hambat Kreativitas
Bimbim mengaku narkoba menghambat mereka berkarya. Nyatanya, album-album awal Slank sukses sebelum mereka memakai narkoba. Hal yang sama turut diutarakan Ivanka. Ia sadar akan bahaya narkoba yang mengancam kesehatan dan kehidupan sosial.
“Semua adegan di film itu betul. Saya pernah merasakan sakit. Saya harap film ini jadi inspirasi untuk anak-anak muda jangan sekali-kali memakai narkoba,” kata Ivanka.
Sutradara Fajar Bustomi ingin mengangkat cerita bagaimana Slank dapat keluar dari jeratan narkoba. “Kita belajar dari Slank, drugs itu tidak baik. Saya ingin publik mengetahui begitu kejamnya narkoba.”
Ia melakukan riset selama hampir dua tahun.
Ia mengumpulkan berbagai dokumentasi tentang band itu dari buku, video,
dan internet. “Desember 2010. Saya siapin riset untuk memilih cerita.
Saya wawancara Slank. Saya juga minta mereka 100 persen ikut dalam
pembuatan film ini,” kata Fajar.
Untuk pemilihan pemeran, ia mengajak Slank untuk ikut terlibat. Bahkan, mereka juga menjadi cameo dalam film tersebut.
Film ini sukses mengajak penonton melihat lebih dekat kehidupan band
tersebut. Fajar tak hanya mengangkat soal narkoba, tetapi juga cinta dan
persahabatan. Terlihat jelas, bagaimana mereka bersatu padu dalam
menyelamatkan band tersebut.
Sumber : Sinar Harapan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar