Jumat, 03 April 2015

Si Baba, Kakek Tetanggaku, episod : Cerita tentang Kehidupan di Salah Satu Apartemen di Kota Baku

13648507871860040325
koleksi pribadi
Apartemen 17 lantai yang aku tinggali sekarang ini memang bukan tergolong Apartemen yang mewah di Baku ini. Tapi Alhamdulillah meski bukan bangunan yang baru, apartemen tersebut cukup terawat. Fasilitasnyapun cukup memadai, yaitu 2 lift yang selalu dibersihkan setiap hari, tangga darurat, parkir di basement dan halaman apartemen yang cukup untuk menampung kendaraan penghuni Apartemen, serta Gazebo tempat bermain anak-anak yang sekaligus menjadi tempat nongkrong para ibu sambil menunggui anak-anak bermain. Jangan mengharapkan ada fasilitas sport club seperti fitness atau kolam renang, aku juga tidak tahu apakah ada di Baku ini Apartemen yang menyediakan fasilitas sedemikian lengkap seperti di Indonesia. Kemungkinan ada, tapi pasti harganya sangat wow (baca : mahal) dan jelas kami tak akan sanggup membayarnya. Karena harga sewa Apartemen ( apalagi rumah) di sini termasuk tinggi. Kamipun di sini wajib membayar maintenance ( disebut communal) sebulan sekali untuk biaya langganan kabel tv, keamanan dan perawatan kebersihan. Biaya gas dan air sangat murah. Untuk gas paling sebulan kami hanya membayar tak sampai AZN 5 ( Rp. 60 ribu), padahal kami memakainya untuk memasak, pemanas ruangan (heater) dan air panas. Sedang air untuk MCK sekitar AZN 3 ( Rp 36 ribu). Yang agak mahal adalah untuk listrik, bisa sampai AZN 100 ( Rp 1, 2 jt) hanya untuk Apartemen dengan hanya dua kamar tidur.

Terus terang aku sangat betah tinggal di sini, karena fokus utamaku ketika mencari tempat tinggal adalah jarak ke sekolah anakku daripada ke kantor suamiku. Alhamdulillah, anakku hanya butuh waktu sekitar 10 menit berjalan kaki ke Sekolahnya. Daerahnya juga relatif aman dengan kehidupan yang cukup ramai di malam hari. Kebetulan ada 3 rumah makan lokal ( makanan Azeri) yang buka sampai larut malam. Mencari kebutuhan sehari-haripun bisa aku dapatkan dari beberapa Supermarket dan warung-warung kecil di sekitar apartemen. Kalau lapar dan malas untuk memasak, setidaknya kami bisa mengisi perut dengan makanan lokal, seperti Doner.

Mayoritas penghuni Apartemen ini memang orang Azerbaijan, yang hampir semuanya hanya berbicara bahasa Azerbaijan atau Rusia. Hanya satu dua orang saja yang bisa berkomunikasi dengan Bahasa Inggris. Di lantai tempat aku tinggal ada 3 keluarga yang lainnya. Aku jarang bertemu dengan mereka. Kadang pas sama-sama lagi ngantri lift atau sesekali bertemu di parkiran. Ke 3 keluarga tetangga yang satu lantai dengan kami itu super baik. Meski kami (belum pernah) saling berkunjung, tapi mereka sama sekali tidak pernah “usil” dengan kami. Sebenarnya pengen juga mengenal secara dekat, seperti ketika aku tinggal di Jerman dulu bisa dekat dengan beberapa tetangga. Hal yang sering aku lakukan ketika di Jerman dulu adalah berbagi makanan khas Indonesia, seperti bakmi goreng, lumpia dan lain-lain. Mereka sangat menyukainya. Tapi di sini belum pernah kami ngobrol, karena faktor bahasa menjadi kendala utama. Jadi paling kalau ketemu mereka, hanya beberapa kata terucap, seperti salaam, sabahiniz xeyir ( selamat pagi) gunortaniz xeyir (selamat siang), axsaminiz xeyir (selamat malam), necasan ( apa khabar), yaxsi (baik), cox sag ol ( terima kasih ) dan selebihnya adalah … senyum :)

Tapi ada satu penghuni Apartemenku yang sudah sepuh (tua). Aku tak tahu dia itu dikategorikan apa ya, informatif atau cerewet..he he he.. Pertama ketika kami baru menempati Apartemen ini, tiba-tiba dia datang dan ingin memasuki tempat kami. Tentu saja suami marah dan menolak permintaan dia. Akhirnya via telepon, suamipun menghubungi owner rumah dan juga staf kantor untuk bertanya kepada si Baba apa maunya. Si Baba menjelaskan panjang lebar kepada Staf kantor suami. Akhirnya kami mendapat info, kalau si Baba terganggu dengan suara blower AC kami. Lain hari dia bertemu suami, ketika suami baru pulang dari kantor dan akan memarkir mobilnya. Dia memberi isyarat agar suami menelpon staf kantor. Suami hanya bersabar dan disambungkanlah dengan staf kantor tersebut. Hasilnya, lagi-lagi dia komplain karena suara dag dug dag dug dari tempat kami. Oalahh rupanya dia terganggu dengan aktivitas kami seperti berjalan, dan lain-lain.. He he he.. Sabar.. Sabar. Padahal perasaan segala yang kami lakukan biasa saja, dan sesuai dengan waktunya. Untung aku tidak membawa aparat karaoke bisa-bisa kalau aku berkaraoke bisa diomelin terus tiap hari..he he.. Eh lain waktu lagi tiba-tiba siang hari suami telpon dan bertanya apakah ada air yang bocor dan menggenang, karena kata sang owner si Baba komplain ada yang bocor dari atas (lantai tempat kami tinggal). Aku jawab tidak ada dan akhirnya si owner “sedikit” mengomeli si Baba. Kasihan juga sih, mungkin karena faktor usia juga jadi lebih sensitif dengan segala hal.

Yang membuat aku senang adalah tak pernah ada penghuni yang mengeluh soal bau masakan. Indonesia khan jenis bahan makanannya paling lengkap dan paling beraroma. Yang paling harus diperhatikan ketika orang Indonesia tinggal di Luar negeri (khususnya Apartemen) adalah membakar terasi. Hal yang biasanya aku paling berhati-hati ketika tinggal di tempat lain sebelum di Baku. Tapi ternyata selama aku di sini, tak satupun orang di Apartemen yang mengeluh tentang aroma makanan yang dihasilkan dari rumahku. Lha sebelah kami selalu beraroma pizza, kabab, spaghetti, eh dari tempat kami aromanya ikan goreng, sambal terasi, kerupuk goreng.. He he he… Alhamdulillah deh aku untuk hal ini, karena kami sekeluarga tidak bisa hidup tanpa sambal dan kerupuk.

Hal yang sedikit mengganggu adalah aku melihat ada satu penghuni yang membawa anjing masuk ke dalam Apartemen. Aku sendiri kurang paham peraturannya untuk kepemilikan binatang. Dan aku pernah melihat petugas cleaning service dibuat kerja ekstra dengan membersihkan kotoran yang ditinggalkan di sekitar apartemen. Sangat disayangkan sikap penghuni yang seperti itu. Pertama membawa binatang masuk ke dalam Apartemen jelas berefek tidak baik bagi kesehatan. Yang ke dua, seharusnya dia faham dengan kebiasaan binatang peliharaannya. Kapan harus diajak keluar dan berjalan-jalan dan mungkin juga membuang kotoran, sehingga tidak mengganggu kenyamanan penghuni lain. Memang sih cleaning service sangat cepat sekali membersihkan, tapi kasihan khan si Bibi harus mengerjakan tugas yang mestinya tidak ada dalam deskripsi pekerjaannya.

Tinggal beberapa tahun di Negeri orang memang bukan hal yang mudah. Ya di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Harus bisa beradaptasi dan memahami kebiasaan penduduk setempat. Namanya jugga kita yang numpang tinggal. Mudah-mudahan kami bertambah betah di sini, tidak menemui kesulitan-kesulitan yang berarti dan semoga semakin banyak mendapatkan pengalaman yang berguna.
NB : - Baba adalah Kakek untuk bahasa Azerbaijan
- Sedang Bibi artinya juga bibi dalam bahasa indonesia.
- Salam Kompasiana -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar