Kisah Pedih di Balik Kehidupan Wanita BercadarSarah adalah seorang wanita bersuami dengan dua anak. Pernikahannya dengan Khalid semula dianggapnya merupakan sebuah ibadah. Namun, apa jadinya jika sebuah pernikahan malah menyakiti salah satu pihak? Pihak perempuan misalnya. Apakah ia harus diam saja menerima semuanya dengan mengatas namakan takdir? Ataukah ia harus berbuat sesuatu, tapi apa?
Mengisi hari-hari dengan membaca membuat Sarah cukup memiliki wawasan yang luas. Apa lagi yang bisa dilakukannya selain membaca? Sarah juga sering mengisi hari-harinya dengan menulis catatan harian. Ia banyak menuliskan tentang perasaan, pandangan, serta harapannya dalam kehidupan ini. ”Hidup adalah perjuangan melawan keadilan”, ” Mengapa aku tidak seperti perempuan lain”, merupakan penggalan kalimat yang bisa ditemui di catatan hariannya. Buku catatannya penuh dengan aneka pertanyaan yang tak bisa ia dapat jawabannya.Sebaris kalimat dari majalah yang dibacanya seakan membuatnya tersadar dari lamunan panjang. ” Pengkhianatan keluarga sebenarnya bukan kebiasaan masyarakat kita yang muslim, yaitu masyarakat arab saudi yang berpegang teguh pada keyakinannya. Tapi kami menghadirkannya kepada pembaca sekalian untuk menjadi perhatian dan peringatan tentang sesuatu yang sudah lazim terjadi dalam masyarakat Barat”. Sarah pun segera memutuskan membuat sebuah surat untuk Pemimpin Redaksi.
Surat Sarah diterima oleh Hisyam, sang Pemimpin Redaksi yang berada di belahan dunia lain. Sebagai seorang pria, ia hidup dalam dua dunia yang sangat bertolak belakang! Di suatu saat, ia memuji seorang wanita setinggi langit, memberikan penghormatan dan penghargaan pada wanita serta bersikap santun. Namun di lain waktu, wanita baginya hanya seonggok daging! Sungguh Ironis!
Surat pertama Sarah, sempat mengusik perhatiannya. Ingatannya pada kampung halaman serta pandangan masyarakat yang berlaku di sana membuatnya menerbitkan surat yang Sarah kirim, tentunya setelah mengalami pengeditan. Namun surat kedua, ketiga, dan seterusnya benar-benar mengusik perhatian Hisyam. Sarah menulis tentang banyak hal. Mulai dari pernikahannya, kejadian pada malam pertama hingga penceraian sahabatnya.
Sarah menuliskan hal-hal yang selama ini tersimpan rapat seakan merupakan rahasia besar dari kehidupan para wanita bercadar. Ia bercerita mengenai alasannya menolak memakai cadar saat ke luar rumah, suami sahabat yang menggoda dirinya, hasrat terpendamnya sebagai wanita hingga ketaatannya pada Sang Kuasa, sumber kekuatannya menghadapi dilema hidup. Ia terpasung antara keinginan dan sesuatu yang disebut tradisi serta mengatasnamakan agama. Ia hidup tapi ia seakan tidak memiliki ruh.
Dalam salah satu suratnya, Sarah menulis, ” … Saat itu aku baru mengerti bahwa ada perbedaan antara hubungan seksual dan hasrat seksual. Hasrat seksual adalah keniscayaan hewani, sementara hubungan seksual adalah hadiah dari langit.” Seperti umunya setiap gadis yang menjadi pengantin, Sarah memimpikan malam pengantin yang romantis. Alih-alih mendapatkannya, ia malah merasa ketakutan dan berakhir dengan kepedihan. “… Akhirnya dia berhasil menindihku. Apa kamu tahu apa yang dia katakan kepadaku? ‘AKu menginginkan hakku …’ Demikianlah, aku bukan menjadi istrinya, melainkan sapi yang baru saja dia beli yang ingin segera dia isap susunya dan dilahap dagingnya!”
Sarah menceritakan dengan lugas sisi kehidupan rumah tangga para wanita bercadar yang selama ini terkubur. Mereka ternyata mengalami hal-hal yang sungguh luar biasa. Banyak hal yang membuat hati ini teriris saat membacanya. Sekaligus kagum akan ketegaran hati mereka.
Hidup memang pilihan, untukku pilihannya sudah jelas. Sementara Sarah, ia masih harus menimbang-nimbang pilihan hidupnya
Sang penulis, Hani Naqshabandi juga seorang penyair dan kolumnis terkemuka di Arab Saudi. Sehari-harinya ia adalah Pemimpin Redaksi Majalah Al-Sayyidati, sebuah majalah keluarga berbahasa Arab yang berkantor di London.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar